Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

TERSENYUM SELALU

Rabu, 26 Januari 2011

Ini adalah cerita seorang ibu yg akan menyelesaikan skripsinya.
This is really a good story....

Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan
baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus
saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif
dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.
Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama "Tersenyum".
Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum
kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka.

Saya
adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum
pada setiap orang dan mengatakan "hello", jadi, saya pikir,tugas
ini sangatlah mudah.
Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak
bungsu saya, dan saya pergi ke restoran pada suatu pagi di
bulan Maret yang sangat dingin dan kering.

Mengikuti barisan Ini adalah salah satu
cara kami dalam antrian, menunggu untuk dilayani, ketika
mendadak setiap orang di sekitar kami mulai menyingkir, dan
bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir.

Saya tidak
bergerak sama sekali... suatu perasaan panik menguasai diri
saya ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua
menyingkir.
Ketika berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor"
yang sangat menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang
lelaki tunawisma.

Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang
lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang "tersenyum".
Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan
ketika ia minta untuk dapat diterima.
Ia berkata "Good day"
sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan.
Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh
sambil berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi
mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya.
Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.
Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka
inginkan.

Ia berkata; "Kopi saja, Nona"

karena hanya itulah yang
mampu mereka beli.
(Jika mereka ingin duduk di dalam restoran
dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli
sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan).

Kemudian saya
benar-benar merasakannya - desakan itu sedemikian kuat
sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil
bermata biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya
menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya,
menilai semua tindakan saya
Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter
untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi dalam
nampan terpisah.

Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke
arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat
istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan
meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru
itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata

"Terima kasih."

Saya meluruskan badan dan mulai menepuk
tangannya dan berkata;

"Saya tidak melakukannya untukmu.
Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu
harapan."

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan
bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk
suami saya tersenyum kepada saya dan berkata;

"Itulah
sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku,
Sayang. Untuk memberiku harapan."

(Kami saling berpegangan
tangan beberapa saat dan pada saat itu kami tahu bahwa hanya
karena Kasih Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami berikan
untuk orang lain.)

Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih Tuhan yang murni
dan indah. Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah,
dengan cerita ini ditangan saya. Saya menyerahkan "proyek"
saya dan dosen saya membacanya.

Kemudian ia melihat
kepada saya dan berkata,

"Bolehkan saya membagikan ceritamu
kepada yang lain?"

Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian
meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu
saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan,
membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk
disembuhkan..
Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai kami untuk
menyentuh orang-orang yg ada restoran tersebut, suamiku,
anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di
malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu
pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari,yaitu:

"PENERIMAAN
YANG TAK BERSYARAT."

Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap
orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari
bagaimana untuk MENCINTAI SESAMA DAN MEMANFAATKAN
BENDA-BENDA BUKANNYA MENCINTAI BENDA DAN
MEMANFAATKAN SESAMA..................



(sumber: milis tetangga)

Read more...

"CANGKIR CANTIK"

Senin, 24 Mei 2010

Sepasang kakek dan nenek pergi berbelanja di sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka.
Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik.

 "Lihat cangkir itu" kata si nenek kepada suaminya.
"Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah kulihat" ujar si kakek. 

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara; "Terimakasih untuk pujiannya, tapi kalian perlu tahu bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna".

Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar,
Kemudian dia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing.

Stop! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata: "belum........!"
Lalu ia mulai mencengkeram dan meninjuku berulang-ulang.

Stop! Stop! teriakku lagi. Tapi orang ini tetap saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. 
Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian.

Panas! Panas! Teriakku dengan keras.
Stop! Cukup! Teriakku lagi.

Tapi orang ini berkata "belum!" Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin.
Aku pikir, selesailah penderitaanku.

Oh,ternyata belum. 
Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku.
Asapnya begitu memualkan.

Stop! Stop! Aku berteriak.
Wanita itu berkata "belum!" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya!

Tolong! Hentikan penyiksaan ini! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya!
Tapi orang ini tidak perduli dengan teriakanku.
Ia terus membakarku.
Setelah puas "menyikasaku" kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku di kaca.

Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena dihadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik.
Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku".

THINK ABOUT THIS:

Seperti inilah Tuhan membentuk kita.
Pada saat Tuhan membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata.

Tapi inlah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemulian-Nya.

"Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila Anda jatuh ke dalam berbagai cobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperolah buah yang matang."

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk Anda. 
Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan, tetapi setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk Anda.

......dari milis tetangga...........

Read more...

MENGAPA TUHAN MENGIZINKAN PENDERITAAN? (2)

Sabtu, 24 April 2010

MENGAPA TUHAN MENGIZINKAN PENDERITAAN? (1)... Klik disini!





-UNTUK MEMIMPIN KITA
Ketika seseorang menolak Allah, penderitaanlah yang seringkali menjadi kambing hitam. Namun anehnya, penderitaan juga mendapat penghargaan ketika orang menggambarkan apa yang mengarahkan kembali hidup mereka, menolong mereka untuk melihat hidup dengan lebih jelas, dan menyebabkan hubungan mereka dengan Allah semakin dekat. Bagaimana situasi yang sama dapat memberi pengaruh yang sangat berbeda pada sikap manusia?
Alasannya terletak pada orang itu sendiri, bukan pada peristiwanya.


Seorang pemimpin terkenal dan terbuka terhadap media mencela kekristenan sebagai "agama bagi para pecundang." Namun ia tidak selalu merasa seperti itu. Ketika masih muda, ia menerima pelatihan Alkitab, termasuk sekolah si sekolah lanjutan Kristen. Ketika bergurau tentang indoktrinasi ketat yang ia peroleh, ia berkata, "Saya kira saya telah diselamatkan tujuh atau delapan kali." Namun kemudian suatu pengalaman yang menyakitkan mengubah pandangannya terhadap kehidupan dan Allah. Adik perempuannya sakit keras. Ia berdoa bagi kesembuhannya, tetapi setelah menderita selama lima tahun, adiknya meninggal dunia. Ia kemudian mengambil kesimpulan yang salah bahwa Allah memang mengizinkan hal itu terjadi. Ia berkata, "Saya mulai kehilangan iman saya, dan semakin banyak iman saya berkurang, saya merasa semakin baik."


Apa yang membuat orang seperti itu berbeda dengan orang seperti Joni Earecson Tada? Dalam buku yang berjudul Where Is God When It Hurts? (Di Mana Allah Ketika Kita Menderita?) Philip Yancey menggambarkan perubahan sikap bertahap yang terjadi pada Joni selama bertahun-tahun setelah ia lumpuh dalam kecelakaan tatkala ia berolahraga selam.


"Pada mulanya Joni menemukan bahwa tidak mungkin baginya untuk mempertahankan iman percayanya kepada Allah yang penuh kasih... Pertobatannya kembali kepada Allah terjadi secara bertahap. Luluhnya sikap Joni terhadap kepahitan menjadi percaya terjadi setelah melewati masa penuh airmata dan pergumulan selama tiga tahun"


Titik balik itu terjadi pada suatu malam ketika seorang teman dekatnya, Cindy, memberitahunya, "Joni, engkau bukanlah satu-satunya orang yang mengalami hal ini. Yesus tahu apa yang engkau rasakan - karena Dia juga lumpuh." Cindy menjelaskan bagaimana Yesus disalibkan, dilumpuhkan oleh paku.


Yancey kemudian mengamati, "Pikiran itu membangkitkan minat Joni dan, sesaat kemudian, mengalihkan pikirannya pada penderitaannya sendiri. Sebelumnya, ia tidak pernah berpikir bahwa Allah juga merasakan rasa sakit yang menusuk yang sekarang menyiksa tubuhnya. Kesadaran itu amat melegakannya"
Joni tidak meneruskan mencari jawaban mengapa kecelakaan yang menghancurkan hidupnya itu terjadi. Sebaliknya, ia semakin bergantung sepenuhnya pada Tuhan dan memandang kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.


"Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna."


Prinsip bahwa penderitaan dapat menghasilkan ketergantungan yang sehat pada Allah, diajarkan oleh Rasul Paulus dalam salah satu suratnya kepada jemaat di Korintus.
Ia menulis demikian:
Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati (II Korintus 1:8-9).


Penderitaan memaksa kita untuk melihat jauh melampaui keadaan yang kita alami sekarang. Penderitaan mendorong kita untuk mengajukan pertanyaan yang besar: "Mengapa saya berada disini" dan "Apa tujuan hidup saya?" Dengan mencari jawaban atas kedua pertanyaan tersebut dan menemukannya di dalam Allah yang terdapat dalam Alkitab, kita akan memperoleh kemantapan yang kita butuhkan untuk menanggung penderitaan yang paling berat sekalipun yang menimpa hidup kita, karena kita tahu bahwa Allah yang berdaulat tetap menyertai sepanjang sejarah umat manusia dan merajut semua itu menjadi permadani yang indah yang pada akhirnya akan memuliakanNya, maka kita akan melihat berbagai hal dalam sudut pandang yang lebih baik.


Dalam Roma 8:18 Paulus menulis, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." Paulus tidak bermaksud untuk memperingan kesukaran-kesukaran kita, tetapi ia memberitahu umat percaya untuk melihat berbagai kesukaran dengan kacamata kekekalan. Masalah-masalah yang kita hadapi mungkin berat, bahkan menghancurkan. Namun Paulus berkata bahwa jika dibandingkan dengan kemuliaan yang menanti orang-orang yang mengasihi Allah, bahkan dalam keadaan hidup yang paling gelap dan berat sekalipun, semuanya itu akan memudar.


Oleh karena itu, tatkala kesukaran menimpa - dan pasti akan kita alami - ingatlah hal ini: Allah menggunakan situasi-situasi semacam itu untuk menuntun kita padaNya dan kepada pandangan hidup yang jauh ke depan. Dia memanggil kita untuk percaya, berharap dan menunggu. 


Bersambung....



Read more...

MENGAPA TUHAN MENGIZINKAN PENDERITAAN? (1)

Rabu, 07 April 2010



JAWABAN YANG SULIT DIPAHAMI
Hidup seringkali sulit untuk dipahami. Dalam upaya untuk mengatasi kenyataan pahit yang kita alami, kita dapat dengan mudah terpuruk dalam frustasi. Kita rindu memperoleh jawaban atas masalah-masalah tentang penderitaan yang menumpuk. Kita bahkan bertanya-tanya, apakah kita dapat sepenuhnya memahami mengapa hal-hal buruk menimpa orang-orang yang baik dan mengapa hal-hal baik justru dinikmati oleh orang-orang yang jahat. Jawaban atas pertanyaan ini seringkali sulit dipahami, tersembunyi dan seakan di luar jangkauan kita.

Alangkah berbahayanya, bahkan bodoh, jika kita berpura-pura bahwa kita tahu secara lengkap jawaban atas pertanyaan mengapa Allah mengizinkan penderitaan. Alasannya sangat banyak dan kompleks. Kita pun salah jika menuntut bahwa kita harus tahu jawabannya.
Dan bahkan meskipun kita sama sekali tidak mengerti mengapa kita mengalami suatu masalah, kita dapat dimampukan untuk mengatasi masalah itu dan menanggapinya dengan cara yang berkenan di hadapan Tuhan.

Satu hal lagi, Saya tidak akan berpura-pura bahwa saya memahami sepenuhnya penderitaan yang mungkin Anda alami sendiri. Meskipun beberapa aspek dari penderitaan manusia adalah hal yang umum, tetapi ada aspek-aspek tertentu yang berbeda. Dan apa yang mungkin paling Anda butuhkan saat ini bukanlah pengetahuan tentang mengapa Anda menderita atau bahkan bagaimana cara Anda mengatasinya. Mungkin yang paling Anda butuhkan adalah pelukan, telinga yang mau mendengar, atau seseorang yang bersedia duduk diam bersama Anda. Namun kadang-kadang pada saat seperti itu, Anda ingin dan membutuhkan kebenaran firman Allah untuk menghibur dan menolong Anda melihat penderitaan Anda dari sudut pandang Allah.

MENGAPA ALLAH YANG BAIK MENGIZINKAN PENDERITAAN?
Dimana Allah ketika kita mengalami penderitaan?
Jika Dia baik dan penuh belas kasihan, mengapa kehidupan seringkali demikian tragis? Apakah Dia telah kehilangan kendali? Atau, jika Dia tetap memegang kendali, apa sebenarnya yang ingin Dia lakukan bagi saya dan orang lain?
Sebagian orang memilih untuk menyangkal keberadaan Allah karena mereka tidak dapat membayangkan Allah seperti apa yang tega mengizinkan penderitaan seperti itu.
Jika kita mempelajari Alkitab dengan cermat, kita akan menemukan bahwa Allah dapat melakukan apa saja yang Dia inginkan. Kadang-kadang Dia bertindak penuh belas kasihan dan melakukan berbagai mukjizat bagi umatNya. Namun, pada saat yang lain, Dia memilih untuk tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan tragedi.
Dalam Alkitab, Dia meyakinkan kita bahwa Dia mengendalikan apa saja yang terjadi, tetapi kadang-kadang Diga membiarkan kita menjadi sasaran orang-orang yang jahat, gen-gen pembawa sifat buruk, virus yang berbahaya, atau bencana alam.
Dalam penelaahan yang singkat ini kita akan melihat bahwa jawaban dasar dari Alkitab adalah bahwa Allah kita yang baik mengizinkan kesakitan dan penderitaan di dalam hidup kita untuk memperingatkan kita atas masalah dosa, untuk memimpin kita agar menaggapiNya dengan iman dan harapan, untuk membentuk kita agar lebih menyerupai Kristus, dan untuk mempersatukan kita agar kita saling menolong satu sama lain.


-UNTUK MEMPERINGATKAN KITA
Bayangkanlah sebuah dunia yang tanpa penderitaan. Seperti apa bentuknya? Mungkin ini gagasan yang menarik, tak ada sakit kepala, tak ada lagi sakit di punggung, tak ada lagi sakit perut, tak ada lagi sakit tenggorokan. Namun, juga tak ada lagi perasaan yang memperingatkan Anda bila ada tulang Anda yang patah atau persendian yang lepas. Tak ada lagi tanda bahaya yang memberitahukan Anda bahwa sebuah borok telah melubangi perut Anda. Tak ada lagi rasa tidak enak untuk memperingatkan Anda bahwa tumor ganas sedang menggalang kekuatan untuk mengambil alih tubuh Anda. Tak ada lagi kejang yang memberitahu Anda bahwa pembuluh darah ke jantung Anda tersumbat.

Sebesar apapun kebencian kita terhadap rasa sakit, kita harus mengakui bahwa rasa sakit itu seringkali mempunyai tujuan yang baik. Rasa sakit itu mengingatkan kita bila ada sesuatu yang tidak beres. Penyebab rasa sakit itu sendirilah yang merupakan masalah utama, bukan penderitaanya.
Pada bagian ini kita akan melihat bagaimana rasa sakit dapat merupakan cara Allah untuk memperingatkan kita bahwa:
  1. Ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia ini.
  2. Ada sesuatu yang tidak beres dengan ciptaan Allah.
  3. Ada sesuatu yang tidak beres dengan diri saya.
Mari kita lihat masing-masing diagnosa tersebut.
1. Ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia ini.
Penderitaan dapat terlihat kejam, ngawur, tanpa tujuan, sangat aneh, dan buas tak terkendali. Hal-hal buruk menimpa orang-orang yang yang mencoba hidup dengan baik, dan hal-hal yang baik dialami orang-orang yang menikmati kejahatannya. Hal-hal yang terlihat tidak adil ini terjadi pada kita.
Saat saya duduk merenungkan semua penderitaan yang dialami oleh teman-teman saya, teman sekerja saya, keluarga saya, tetangga saya, dan anggota jemaat, saya tidak dapat membayangkan betapa panjangnya daftar itu - dan daftar itu masih belum lengkap. Seringkali mereka menderita tanpa kesalahan yang jelas. Kecelakaan, cacat saat lahir, kekacauan genetik, keguguran, orangtua yang kejam, sakit kronis, anak yang memberontak, sakit parah, penyakit yang tak jelas, kematian pasangan atau anak, putusnya hubungan, bencana alam. Semua ini kelihatannya tidak adil. Dari waktu ke waktu saya tergoda untuk menyerah dalam keputusasaan.


Bagaimana kita dapat memecahkan persoalan ini? BAgaimana kita menjalani kehidupan yang pahit ini tanpa menyangkali realitas atau terjerumus dalam keputusasaan? Tidak mampukah Allah menciptakan sebuah dunia yang tanpa masalah? Tidak mampukah Dia menciptakan sebuah dunia dimana orang tidak dapat membuat pilihan yang buruk atau melukai orang lain? Tidak mampukah Dia menciptakan sebuah dunia tanpa nyamuk, rumput liar, dan penyakit kanker?
Dia mampu - tetapi Dia tidak mau berbuat demikian.
Karunia besar kebebasan umat manusia yang telah Allah berikan kepada kita, yakni kemampuan untuk memilih, juga disertai dengan resiko bila kita membuat pilihan yang salah.
Jika Anda dapat memilih antara menjadi mahluk yang berpikiran bebas di sebuah dunia di mana pilihan-pilihan yang buruk menimbulkan penderitaan, atau menjadi robot di sebuah dunia yang tanpa penderitaan, mana yang akan Anda pilih?

Kita dapat saja diciptakan seperti sebuah boneka lucu yang dijalankan dengan baterei yang berkata "Saya mencintai kamu" ketika dipeluk. Namun Allah mempunyai rencana lain. Dia mengambil satu "resiko" untuk mencipta mahluk yang dapat melakukan hal yang tak terpikirkan - memberontak terhadap Pencipta mereka.


Masuknya dosa ke dalam dunia tidak hanya membawa pengaruh yang merusak terhadap umat manusia, tetapi juga membawa penghakiman langsung dan terus-menerus dari Allah. Kejadian 3 menghubungkan bagaimana kematian fisik dan rohani menjadi bagian dari keberadaan manusia (ayat 3, 19), kelahiran bayi menjadi menyakitkan (ayat 16), tanah dikutuk dan dipenuhi semak belukar yang membuat kerja manusia menjadi sangat berat (ayat 17-19), dan Adam dan Hawa diusir dari Taman yang khusus itu di mana mereka telah menikmati hubungan yang intim dengan Alllah (ayat 23-24).


Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menggambarkan seluruh ciptaan Allah mengeluh dan amat merindukan saat ketika mereka dibebaskan dari kutuk kebinasaan dan dibuat kembali menjadi bebas dari pengaruh dosa (Roma 8:19-22)


Penyakit, bencana, dan korupsi merupakan gejala dari sebuah masalah yang lebih berat - ras manusia telah memberontak melawan sang Pencipta. Setiap kesedihan, kesusahan, dan kegetiran merupakan peringatan yang jelas atas mara-bahaya yang akan kita alami. Seperti halnya lampu peringatan yang besar, realitas penderitaan meneriakkan suara bahwa dunia tidak seperti yang Allah kehendaki.


Oleh karena itu, jawaban yang pertama dan terutama atas masalah penderitaan adalah bahwa hal itu merupakan akibat langsung dari masuknya dosa ke dalam dunia. Penderitaan memperingatkan kita bahwa penyakit rohani sedang menghancurkan planet kita. Seringkali masalah yang kita alami hanya disebabkan karena efek samping dari hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, bukan karena kesalahan kita secara langsung.


2.Ada sesuatu yang tidak beres dengan ciptaan Allah.
Kita dapat menjadi sasaran tindakan kejam dari orang lain atau pasukan Setan. Baik manusia yang telah jatuh maupun mahluk roh yang telah jatuh (para malaikat yang memberontak)
 memiliki kemampuan untuk mengambil berbagai keputusan yang dapat merusak diri mereka sendiri maupun orang lain.

Penderitaan dapat disebabkan oleh manusia.
Sebagai mahluk yang bebas (dan terinfeksi dosa), manusia telah membuat dan akan terus membuat pilihan-pilihan yang buruk dalam hidupnya. Pilihan-pilihan yang buruk ini seringkali mempengaruhi orang lain.

Misalnya, salah seorang anak Adam, Kain, memilih
untuk membunuh saudaranya Habel (Kejadian 4:7-8). Lamekh menyombongkan kekerasan yang ia buat (ayat 23-24). Sarai menganiaya Hagar (Kejadian 29:15-30). Yusuf dijual saudaranya sebagai budak (Kejadian 37:12-36), dan kemudian istri Potifar menuduhnya mencoba melakukan perkosaan dan membuatnya masuk penjara (Kejadian 39). Firaun dengan kejam menganiaya budak Yahudi di Mesir (Keluaran 1). Raja Herodes membantai bayi-bayi yang hidup di Bethlehem dalam usahanya membunuh Yesus (Matius 2:16-18).



Luka yang ditimpakan oleh orang lain terhadap kita mungkin disebabkan karena keegoisan mereka. Atau mungkin juga Anda menjadi sasaran aniaya karena iman Anda kepada Yesus Kristus. Sepanjang sejarah, orang yang mengikut Tuhan mengalami penderitaan di tangan orang-orang yang memberontak terhadap Allah.
Penderitaan dapat disebabkan oleh Setan dan para antek-anteknya.
Kisah hidup Ayub merupakan contoh yang jelas bagaimana orang yang baik dapat mengalami tragedi yang luar biasa karena serangan Setan. Allah mengizinkan Setan untuk mengambil harta benda, keluarga, dan kesehatan Ayub (Ayub1-2).


Demi tujuanNya, Allah mengizinkan Setan menghancurkan kehidupan Ayub. Kita mungkin cenderung membandingkan apa yang Allah perbuat atas Ayub dengan seorang ayah yang membiarkan tetangganya yang suka mengganggu memukul anaknya sendiri hanya untuk melihat apakah anak itu masih mengasihi ayahnya setelah itu. Namun, kemudian Ayub menyadarinya bahwa itu bukanlah merupakan penilaian yang adil bila berbicara tentang Allah yang bijaksana dan penuh kasih.
Pada akhirnya Ayub belajar bahwa meskipun ia tidak memahami maksud Allah, ia memiliki banyak alasan untuk percaya bahwa Allah bukannya tidak adil, kejam, sadis, atau tidak jujur dengan mengizinkan hidupnya diporak-porandakan (Ayub 42).

3.Ada sesuatu yang tidak beres dengan Saya.
Seringkali jika ada sesuatu yang tidak beres dalam hidup kita, kita dengan segera mengambil kesimpulan bahwa Allah sedang mencambuk kita karena ada dosa tertentu yang telah kita perbuat. Hal itu tidak selalu benar. Seperti yang kita bahas pada butir-butir sebelumnya, banyak penderitaan yang menimpa kita disebabkan karena kita hidup di dunia yang sudah rusak yang dihuni oleh orang-orang yang rusak dan roh-roh yang memberontak.

Dengan peringatan ini di dalam pikiran kita, kita perlu menghadapi kebenaran yang sukar ini bahwa sebagian penderitaan benar-benar merupakan akibat langsung dari dosa - baik sebagai pendisiplinan yang diterapkan Allah terhadap mereka yang dikasihiNya, maupun hukuman yang Allah lakukan terhadap para pemberontak di alam semesta milikNya.
Koreksi. Jika Anda dan saya telah menempatkan kepercayaan kita pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, maka kita adalah  anak-anak Allah. Dengan demikian, kita merupakan bagian dari sebuah keluarga yang dipimpin oleh Bapa yang penuh kasih yang melatih dan mengoreksi kita. Dia bukanlah orangtua yang kejam dan sadis yang melancarkan pukulan-pukulan keras karena Dia merasa senang melakukannya.

Ibrani 12 menyatakan:
Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak... Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibrani 12:5-6, 9-10)

Kebanyakan kita dapat memahami prinsip bahwa Allah mengasihi orang-orang yang dihukumNya. Kita mengharapkan Bapa yang penuh kasih akan mengoreksi kita dan memanggil kita untuk memperbaharui ketaatan kita kepadaNya.
Penghakiman. Allah juga bertindak untuk mengatasi orang-orang percaya yang bandel dan bersikeras melakukan kejahatan.
Tuhan mendatangkan air bah untuk menghancurkan umat manusia (Kejadian 6). Dia menghancurkan Sodom dan Gomorah (Kejadian 18-19). Dia mengirimkan wabah pada bangsa Mesir (Keluaran 7-12). Dia memerintahkan bangsa Israel untuk menghancurkan secara total orang-orang kafir yang tinggal di Tanah Perjanjian (Ulangan 7:1-3). Dia menampar Raja Herodes yang sombong sampai mati di zaman Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 12:19-23). Dan pada masa penghakiman mendatang, Allah akan menghakimi secara sempurna siapapun yang menolak kasih dan hukumNya (II Petrus 2:4-9).

Ketika kita bergumul dengan kenyataan bahwa orang-orang fasik secara harfiah "bebas dari tuduhan membunuh" dan segala macam perbuatan yang tidak bermoral, kita perlu mengingat bahwa "Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya orang berbalik dan bertobat" (II Petrus 3:9).

Lalu, bagian pertama dari jawaban terhadap masalah penderitaan adalah bahwa Allah menggunakan penderitaan untuk memperingatkan kita terhadap masalah-masalah yang serius. Penderitaan membunyikan alarm untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia ini, dengan manusia pada umumnya, dan dengan Anda dan saya.

(Seri Mutiara Iman by.Yayasan Gloria)
Bersambung...MENGAPA TUHAN MENGIZINKAN PENDERITAAN (2)...Klik disini!

Read more...

Buah Pahit Kebencian

Jumat, 05 Maret 2010

Baca : 1Yohanes 3:10-15
Nats  : Setiap oang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia (1Yohanes 3:15) 


Salah satu kebencian yang pernah saya temui, tertera dalam sebuah surat wasiat yang ditulis oleh Bapak Donohoe pada tahun 1935. Bunyinya,"Kepada kedua putriku, Frances Marie dan Denise Victoria. Berdasarkan sikap yang tidak pantas terhadap ayah yang penuh cinta,........saya mewariskan uang 1 dolar per orang dan kutukan seorang ayah. Semoga hidup mereka penuh dengan kesedihan, ketidakbahagiaan, dan derita yang dalam. Semoga kematian segera menghampiri mereka dengan ganas dan membelit secara perlahan. " 
Kalimat terakhir dari surat wasiat tersebut begitu manakutkan sehingga saya bergidik untuk mengutipnya. "Semoga jiwa mereka masuk neraka dan menderita siksaan-siksaan abadi."

Kutukan seperti itu tidak muncul karena sesuatu hal yang terjadi dalam sehari. Kutukan itu tumbuh dalam waktu yang lama. Kita seharusnya tidak boleh mengizinkan jiwa kita menjadi lahan yang yang subur untuk menanam benih-benih kebencian. Dunia yang penuh hal-hal baik akan datang sendiri kepada kita bila kita berpedoman kepada kata-kata Paulus,"Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26). Dan Yakobus memberi kita bimbingan yang bijaksana ketika ia berkata agar kita,"hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (Yakobus 1:19-20).

Jangan lupa bahwa,"Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah pembunuh manusia" (1Yohanes 3:15). Oleh karena itu, betapa pentingnya untuk tidak pernah membesarkan buah kebencian yang pahit.


"KEBENCIAN SEPERTI ZAT ASAM, MERUSAK WADAH YANG MENYIMPANNYA MAUPUN TEMPAT IA DITUANGKAN".

"Bapa, seringkali sulit untuk mencabut akar pahit yang sudah lama mengakar dalam hatiku. Namun aku sungguh tau bahwa Engkau tidak menginginkannya ada di hatiku. Hari ini, tolonglah aku untuk dapat mencabutnya dengan pertolonganMu. Dengan mengampuni dan mengasihi orang yang membenci aku. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Amin". 

Read more...

Dengarlah Gema Suaramu

Baca: Mazmur 18:21-28
Nats : Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia (Mazmur 18:26)
Sumber: Renunganku 


Seorang laki-laki yang wajahnya rusak berat, menjadi sasaran berbagai komentar yang tidak menyenangkan. Suatu hari ia berkata kepada ibunya,"Aku benci orang-orang itu". Menyadari bahwa anaknya putus asa, sang ibu membawanya kesebuah ngarai dan menyuruhnya berteriak,"Aku benci kamu!" Gemanya kemudian terdengar kembali,"Aku benci kamu!"
Kemudian ia menyuruh anaknya berteriak,"Aku sayang kamu!" Gemanya terdengar kembali,"Aku sayang kamu!" Sang ibu kemudian menjelaskan bahwa biasanya kita akan menerima dari orang-orang apa yang pertama kali kita kirimkan.

Dalam arti tertentu, hal tersebut juga berlaku dalam hubungan kita dengan Allah. Dia tentunya yang mengambil inisiatif dalam penyelamatan, namun manusialah yang memilih bagaimana ia akan berhubungan dengan Allah. Mazmur 18:1-50 berkata bahwa Allah berlaku setia kepada orang yang setia, dan pada orang yang bengkok Dia akan berlaku berbelit-belit (tidak pernah licik, tetapi hanya untuk mencegah rancangan manusia yang jahat).

Bila Allah terasa jauh, barangkali karena kita menjauhkan diri dariNya atau dari sesama. Bila Dia seperti tidak perduli, mungkin karena kita telah menjadi keras terhadap sesama. Namun hal-hal sebaliknya juga benar. Dia akan setia kepada mereka yang jujur, bergantung pada belas kasihan sang Juruselamat, dan melayani sesama.
Komentator Alkitab Richard Steele menulis,"Jika Anda memantulkan suara Tuhan ketika Dia memanggil, maka Dia juga akan memantulkan suara Anda ketika Anda memanggil."

Gema mana yang kita pantulkan?

WARNAI KATA-KATA ANDA DENGAN KEBAIKAN MAKA KEBAIKAN KATA-KATA AKAN KEMBALI KEPADA ANDA.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Syaloom,
Renungan ini saya kutip dari Renungan Harian di renunganku.com untuk para pembaca setia di blog saya. Pada dasarnya renunganku.com menyajikan bacaan renungan Alkitab setiap hari bagi umat Kristiani yang rindu untuk mendengarkan ataupun membaca tentang firman Allah. Namun saya tidak menyajikan Renungan Harian ini setiap hari @gauldiyellow.com , saya hanya akan menulis/mengutip beberapa artikel yang menurut saya memilki nilai 'lebih' untuk dijadikan sebagai bahan renungan kita dan saya akan mem-posting secara kontiniu agar kita semua yang rindu akan firman Allah tetap bisa berbagi kerinduan akan firman Allah disini.  Bagi yang berminat untuk membaca renungan harian ini, Anda bisa langsung mengunjungi website yang saya berikan di awal posting saya. Anda hanya tinggal meng-'klik' saja.
GBU.

Read more...

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP